Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
MPASI, Aturan Beri SuFor bayi. Penting!
Aturan
dalam Memberikan Susu Formula untuk Bayi.
·
Apa saja jenis susu formula untuk bayi?
·
Kapan bayi boleh diberikan susu formula?
·
Kondisi medis yang memperbolehkan bayi minum susu formula
·
Aturan memberikan susu formula untuk bayi
·
Apa jenis susu formula yang cocok untuk bayi?
·
Bagaimana bila bayi menolak susu formula dalam botol?
Pemberian
ASI ekslusif sejak baru lahir sangat disarankan karena merupakan makanan yang
terbaik untuk bayi. Sayangnya, tidak semua ibu menyusui dapat memberikan ASI-nya
dengan lancar karena masalah tertentu. Alternatifnya, susu formula bisa
diberikan untuk bayi dalam kondisi ini.
Namun
sebelumnya, pastikan ibu memahami berbagai aturan yang sebaiknya diperhatikan
selama memberikan susu formula untuk bayi.
Apa saja jenis
susu formula untuk bayi?
Pemberian
susu formula (sufor) biasanya dilakukan dalam keadaan tertentu sesuai kondisi
medis yang dialami Si Kecil.
Beberapa
kondisi mau tidak mau membuat bayi harus mendapatkan sufor guna memenuhi
kebutuhan zat gizi bayi.
Anda tidak
perlu khawatir, bubuk susu formula untuk bayi sudah steril sejak masa produksi.
Hal ini
bertujuan untuk meminimalisasi risiko kontaminasi apabila terjadi dalam proses
persiapan dan pemberiannya tidak bersih. Ada banyak jenis sufor untuk bayi dari
berbagai sumber, bentuk, dan juga berbagai merek. Melansir dari laman Kids
Health, beberapa jenis susu formula untuk bayi yang ada meliputi.
1.
Sufor berasal dari susu sapi.
Sebagian besar sufor berasal dari susu sapi. Biasanya jenis
susu ini mengandung protein, karbohidrat, dan lemak dalam keseimbangan yang
tepat.
Protein dalam susu ini sudah mengalami perubahan sehingga
membuatnya lebih mudah untuk dicerna. Ada beberapa kandungan di dalam sufor
yang dibuat mirip dengan ASI yakni asam lemak esensial seperti ARA dan DHA
serta prebiotic dan probiotik.
2.
Sufor dari susu kedelai.
Susu formula jenis ini terbuat dari susu kedelai untuk bayi.
Biasanya, bayi membutuhkan sufor jenis ini jika ia mengalami intoleransi
laktosa. Hal ini bisa dikarenakan infeksi pencernaan, alergi susu sapi yang
berhubungan dengan galaktosemia, dan kekurangan lactase bawaan.
Susu kedelai tidak terdapat kandungan protein whey dan
casein seperti yang ada di dalam susu sapi. Bahkan, susu kedelai juga
bisa diberikan bila bayi mengalami sembelit karena susu formula.
Menariknya, susu kedelai untuk bayi memiliki kandungan lemak
jenuh yang rendah. Lemak idealnya memang dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang
bayi, tetapi dalam takaran dan jenis yang tepat.
Kandungan lemak pada susu kedelai meliputi lemak tak jenuh
tunggal dan lemak tak jenuh ganda. Hal ini dikarenakan susu kedelai berasal
dari tumbuhan, bukan dari sumber hewani seperti susu sapi. Alasan cukup
tingginya kadar serat di dalam susu kedelai untuk bayi yakni karena bersumber
dari tumbuhan atau nabati.
3.
Sufor bebas laktosa.
Susu formula untuk bayi ini tidak mengandung laktosa (gula
yang terkandung dalam susu). Biasanya, sufor diganti dengan jenis gula lain,
seperti sirup jagung.
4.
Sufor hipoalergenik.
Sufor ini mengandung protein yang sudah dipecah menjadi
bentuk lebih kecul sehingga lebih mudah dicerna untuk bayi. Umumnya, bayi yang
membutuhkan sufor jenis ini adalah bayi yang memiliki alergi protein susu atau
yang megalami masalah penyerapan nutrisi (biasanya bayi premature).
Kapan
bayi boleh diberikan susu formula?
Memilih
antara menyusui ASI atau memberi susu formula untuk bayi, termasuk bayi baru
lahir, merupakan suatu keputusan besar bagi orangtua baru.
American
Academy of Pediatrics (AAP) dan World Health Organization (WHO) merekomendasikan
mengenai pemberian ASI.
Menurut
organisasi kesehatan besar dunia tersebut bayi idealnya mendapatkan ASI selama
6 bulan penuh atau biasa disebut dengan ASI ekslusif. Ini karena kandugan gizi
ASI sangat lengkap sehingga dapat memenuhi semua kebutuhan zat gizi bayi sampai
usianya enam bulan.
Sementara
kandungan zat gizi di dalam susu formula dibuat sedemikian rupa agar mirip
dengan kandungan gizi dalam ASI. Namun, tetap saja susu formula tidak bisa
menyamakan kandungan gizi dan manfaat ASI. Ini karena susu formula tidak
mengandung antibodi seperti yang ada di dalam ASI untuk mencegah infeksi.
Bahkan,
dalam proses penyajiannya pun susu formula lebih rentan oleh kuman dan bakteri.
Itu sebabnya, pemberian susu formula (sufor) harus diperhatikan dengan baik
untuk mencegah bayi terhindar dari penyakit infeksi.
Nah, bayi
diperbolehkan minum susu formula ketika pemberian ASI tidak mungkin dilakukan.
Ambil contohnya saat ASI ibu tidak mencukupi kebutuhan bayi, produksi ASI
berhenti, dan lain sebagainya.
Kondisi
medis yang memperbolehkan bayi minum susu formula.
Dokter
biasanya juga memperbolehkan bayi minum susu formula, baik saat baru lahir
maupun sudah berusia beberapa bulan, bila memiliki kondisi medis tertentu.
Berikut
berbagai kondisi medis yang mendukung pemberian susu formula untuk bayi:
1.
Mengalami galaktosemia.
Ada beberapa bayi yang terlahir dengan galaktosemia ini
merupakan kondisi metabolic yang membuat tubuh bayi tidak dapat memproses
galaktosa menjadi energi. Galaktosa adalah komponen gula di dalam ASI maupun
susu formula. Jika tidak segera ditangani, anak bisa mengalami gangguan
perkembangan, katarak, gangguan liver, dan ginjal.
Salah satu solusi untuk menangani kondisi ini pada bayi
adalah dengan pemberian sufor berbahan soya atau kacang kedelai diikuti dengan
pengobatan lainnya.
ASI mengandung laktosa tinggi sehingga bayi harus dipisah
atau diberi susu tanpa laktosa. Selanjutnya, anak Anda perlu dilatih untuk
menjalani pola makan (diet) tanpa galaktosa sepanjang hidupnya.
2.
Bayi prematur.
Bayi yang prematur membutuhkan lebih banya kalori, lemak,
serta protein dibandingkan bayi yang cukup bulan. Meskipun ASI prematur
memiliki ketiga komponen yang dibutuhkan Si Kecil, ASI ini belum seoptimal pada
ASI matur. Biasanya butuh waktu sekitar 3-4 minggu untuk mencapai ASI matur.
Oleh karena itu, pemberian susu formula disarankan pada bayi
yang lahir prematur dengan usia kurang dari 32 minggu dan berat kurang dari 1,5
kg.
3.
Kondisi lainnya.
Ada beberapa kondisi lainnya yang mengaharuskan pemberian
sufor pada bayi. Misalnya, bayi yang bergejala dehidrasi dan ASI ibu yang belum
mencukupi kebutuhan bayi. Bayi dengan kondisi ini ditandai dengan BAB yang
lambat keluar atau masih mekonium (feses pertama), sekalipun bayi sudah berusia
lebih dari 5 hari.
Kondisi lain yang memerlukan pemberian sufor pada bayi yakni
ketika berat badannya turun karena produksi ASI yang lambat. Penurunan atau
peningkatan berat badan yang lambat biasanya juga bisa dikarenakan bayi susah
makan.
Akan tetapi, perlu dipahami bahwa pemberian sufor, khususnya
untuk bayi di atas 6 bulan, hanya sebagai tambahan selain makanan. Susu formula
untuk bayi di atas usia 6 bulan bukan berguna untuk menambah berat badan.
Asupan makanan padat bayi yang berperan besar sebagai penambah berat badan.
Dengan kata lain, susu tidak bisa menggantikan makanan padat
atau MPASI bayi untuk menambah berat badan. Ibu yang terpisah dari bayi maupun
bayi yang memiliki kelainan kongenital (seperti bibir sumbing) juga bisa
menjadi alasan pemberian sufor bayi.
Aturan
memberikan susu formula untuk bayi.
Sebelum
memberikan susu formula bayi, Anda sebaiknya memerhatikan waktu pemberian
sufor, kebersihan botol, cara menyimpan sufor, dan lain sebagainya. Agar lebih
jelas, berikut berbagai aturan yang perlu diperhatikan dalam memberikan susu
formula untuk bayi baru lahir.
1.
Jumlah dan frekuensi pemberian susu formula.
Hal pertama yang harus diperhatikan yakni frekuensi dan
jumlah pemberian susu formula bayi. Karena susu formula kurang dapat dicerna
bayi daripada ASI, biasanya Si Kecil hanya perlu diberi susu beberapa kali
sehingga tidak sesering bila ia menyusu ASI. Berikut aturan jumlah dan
frekuensi pemberian susu bayi.
Jumlah dan frekuensi pemberian susu untuk bayi baru lahir.
Si Kecil baru lahir dapat menerima susu formula bertahap
karena ukuran lambungan sangat kecil yang kemudian akan berkembang. Ada
beberaoa yang perlu ibu perhatikan mengenai jumlah dan frekuensi memberikan
susu formula untuk bayi, termasuk bayi baru lahir.
Berdasarkan Kids Health, bayi baru lahir dapat menghabiskan
sufor sebanyak 45-90 ml. dalam sehari, ia mungkin bisa menyusu 3-4 jam sekali
selama beberapa minggu pertamanya. Jika Si Kecil tidur lebih dari 4-5 jam dan
melewatkan jam minum susunya, bangunkan ia dari tidurnya dan tawarkan susu.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga menyarankan Anda
untuk membangunkan Si Kecil saat masih terlelap tidur setelah 4 jam belum
menyusu.
Jumlah dan frekuensi pemberian susu untuk bayi usia 1 bulan.
Pada akhir usia satu bulan, bayi mungkin akan menghabiskan
susu kurang lebih sebanyak 90-120 ml setiap kali menyusu. Di usia satu bulan
ini frekuensi minum sufor bayi mungkin bisa diprediksi sekitar 4 jam sekali.
Jumlah dan frekuensi pemberian susu untuk bayi usia 1 bulan.
Pada usia enam bulan, bayi dapat minum sekitar 180-230 ml
sufor setiap 4-5 jam sekali karena kapasitas lambung mereka sudah lebih besar.
Jumlah susu formula tersebut juga tergantung apakah Si Kecil sudah mulai makan
makanan padat atau belum.
Jumlah dan frekuensi pemberian susu untuk bayi usia 2 bulan.
Biasanya Si Kecil sudah bisa mengahabiskan susu formula
sebanyak 120-150 ml setiap kali menyusu. Ukuran lambung bayi sudah lebih besar
dibandingkan ketika ia baru lahir. Bayi mungkin akan menyusu setiap 3-4 jam.
Jumlah dan frekuensi pemberian susu untuk bayi usia 4 bulan.
Bayi sudah bisa mengahabiskan susu formula sebanyak 120-180
ml setiap kali menyusu tergantung dari frekuensi menyusu (setiap berapa jam ia
butuh minum) dan ukuran tubuhnya. Bayi yang memiliki tubuh lebih besar mampu
mengahbiskan sufor lebih banyak di usia 4 bulan ini.
Jumlah dan frekuensi pemberian susu untuk bayi usia 6 bulan.
Bayi di usia 6 bulan ini dapat menyusu sekitar 180-230 ml
setiap 4-5 jam.
Tetap perhatikan kebutuhan bayi.
Namun, sebaiknya Anda tidak terpaku dengan Batasan tersebut
karena kebutuhan bayi berbeda-beda. Pada umumnya, bayi membutuhkan 90-120 ml
sufor setiap pemberian selama bulan pertama. Jumlah tersebut selanjutnya
meningkat sebesar 30ml per bulan sampai mencapai 210-240 ml setiap kali bayi
minum susu.
Akan tetapi, sebenarnya bayi dapat mengatur asupannya dari
hari ke hari untuk memenuhi kebutuhannya. Jadi, biarlah ia memberi tahu Anda
apakah asupannya susunya sudah cukup atau belum. Jiak ia mudah terganggu selama
menyusu, mungkin bayi sudah kenyang. Namun, jika ia masih memegang botolnya
walaupun susunya sudah habis, mungkin ia masih lapar dan ingin menyusu lagi.
Kuncinya adalah dengan memberikan sufor untuk bayi baru lahir
setiap kali ia minta atau menangis karena ia lapar. Hal ini sama seperti ketika
ibu memberikan ASI. Seiring berjalannya waktu, bayi dapat menerapkan jadwal
MPASI yang teratur, baik untuk makan makanan padat maupun minum susu.
Dengan begitu, Anda akan lebih mudah mengetahui kapan saatnya
Si Kecil lapar dan harus diberi susu maupun menu MPASI lainnya. Namun, Anda
sebagai ibu harus pintar-pintar membatasi susu untuk Si Kecil jika asupannya
sudah sangat berlebih (biasanya lebih dari 960 ml/hari).
Jika bayi Anda sepertinya terlalu sering atau terlalu banyak
menyusu, cobalah untuk mengalihkan perhatiannya dengan bermain atau melakukan
hal lainnya. Meski susu formula kerap digunakan sebagai Upaya penambah berat
badan bayi, hal ini sebenarnya kurang tepat.
Lagi-lagi, hanya makanan padat yang bisa membantu berat badan
bayi. Namun dalam beberapa kasus, bayi bisa mengalami masalah gizi seperti
kelebihan berat badan atau gemuk karena susu formula. Itulah mengapa sangat
penting untuk mengerti kebutuhan bayi Anda.
2.
Selalu jaga kebersihan botol bayi.
Hal lain yang harus sangat diperhatikan bayi dengan sufor
adalah kebersihan botolnya. Salah satu hal mengapa ASI lebih baik bagi bayi
adalah karena ASI lebih steril daripada sufor.
Peluang sufor untuk terpapar dengan kuman dan bakteri lebih
besar sehingga menjadi kurang steril bagi bayi. Anda harus membersihkan botol
susu dengan benar sebelum memberikannya kepada bayi. Bukan hanya botolnya,
tetapi juga selalu menjaga kebersihan tutup botol dan dotnya.
Anda bisa membersihkan dengan air hangat dan sabun setiap
setelah dan sebelum botol tersebut dipakai. Gunakan sikat khusus botol agar
Anda dapat menjangkau seluruh bagian botol saat membersihkannya.
3.
Pilih botol khusus untuk memberikan susu formula bayi.
Jangan sembarangan memilih botol susu yang akan digunakan
untuk menampung susu formula bagi bayi baru lahir. Sebaiknya pilih botol yang
berlabel BPA-free dan yang terbuat dari plastic polietilen dan polipropilen
yang aman untuk bayi.
4.
Perhatikan cara membuat susu.
Sebelum membuat susu untuk anak, sebaiknya cuci tangan Anda
dengan sabun. Setelah itu, ikuti petunjuk cara menyajikan susu yang tertera
dalam kemasan. Sebaiknya ikuti berapa sendok bubuk susu yang harus Anda
campurkan dengan air. Susu formula yang terlalu encer atau terlalu kental tidak
dianjurkan untuk bayi. Selain itu, gunakan air yang bersih dan aman untuk
membuat susu.
5.
Perhatikan penyimpanan sufor bayi.
Simpan susu formula bayi Anda di lemari es untuk mencegah
bakteri tumbuh. Jika ditemukan tanda sufor bayi, sebaiknya tidak diberikan lagi
pada bayi dibuang saja. Ini karena dampak susu basi untuk kesehatan bayi bisa
membahayakan. Bila sufor tidak langsung diminum oleh bayi, segera dinginkan
kemudian letakkan pada wadah yang tertutup rapat.
Selanjutnya, simpan wadah tersebut di dalam lemari pendingin
(kulkas) dengan suhu kurang dari 5 derajat celcius. Namun yang terpenting,
segera berikan sufor tersebut kepada bayi kurang dari 24 jam.
Sementara bila susu bayi berada di suhu kamar, susu formula
ini hanya mampu bertahan selama kurang lebih satu jam.
Jika sudah dibiarkan selama lebih dari satu jam, sebaiknya
jangan diberikan lagi pada bayi Anda. Selain itu, jika bayi Anda menyisakan
sebagian sufor atau tidak menghabiskannya, sebaiknya buang saja sisanya. Ini
karena ada kemungkinan bakteri sudah mengontaminasi sufor tersebut dan mungkin
saja membuat anak Anda sakit.
6.
Perhatikan juga saat membeli susu.
Saat membeli susu, sebaiknya perhatikan tanggal kadaluwarsa.
Jangan sampai Anda membeli susu yang sudah lewat tanggal kadaluwarsa atau yang
beberapa bulan lagi sudah kadaluwarsa. Selain itu, juga perhatikan keutuhan
kemasannya, pilihlah kemasan yang masih bagus dan tidak rusak. Setelah
membelinya, jangan lupa perhatikan cara penyimpanan susu formula tersebut.
Sebaiknya simpan pada tempat yang sejuk. Tempat penyimpanan yang
panas atau dingin dapat membuat nutrisi dalam susu menjadi berkurang. Jangan
lupa juga untuk selalu menutup kemasan susu dengan rapat setelah membukanya.
Jika kemasan susu terlalu lama terbuka, udara bisa masuk sehingga membuat susu
menggumpal dan merusaknya.
Apa jenis susu formula yang cocok untu bayi?
Banyaknya merek sufor di pasaran mungkin membuat Anda bingung
mana yang cocok untuk bayi. Konsultasikan dengan dokter tentang merek susu mana
yang paling sesuai dengan kebutuhan Si Kecil.
Jika Si Kecil tidak mempunyai alergi atau tidak mempunyai
masalah dalam mencerna susu, Anda dapat memberikan sufor yang terbuat dari susu
sapi. Namunm bila Si Kecil mempunyai intoleransi laktosa atau alergi terhadap
protein susu, Anda lebih disarankan untuk memberikan susu jenis tertentu.
Berbagai susu yang direkomendasikan misalnya susu yang bebas
laktosa, berasal dari kedelai, atau susu hipoalergenik. Ada juga susu almond
yang dapat diberikan bayi setelah usianya di atas 12 bulan atau 1 tahun.
Susu almond bisa menjadi nutrisi yang aman untuk dikonsumsi
balita, tetapi tetap saja tidak ada yang bisa menandingi nutrisi yang ada di
dalam sufor, apalagi nutrisi pada ASI. Ini berarti Anda tidak bisa menggunakan
susu almond untuk bayi sebagai pengganti nutrisi pada ASI.
Ini berarti Anda tidak bisa menggunakan susu almond untuk
bayi sebagai pengganti ASI dan sufor. Sebelum memberikan sufor kebaya, ada
baiknya mendapatkan saran dari dokter anak.
Anda sebaiknya mengikuti anjuran yang diberikan dokter anak terkait
aturan pemberian susu formula guna mendukung tumbuh kembangnya agar lebih
optimal.
Jangan lupa untuk tetap memberikan bayi makanan padat
disamping sufor supaya kebutuhan gizi hariannya terpenuhi. Ada beragam zat gizi
yang harus terpenuhi, salah satunya vitamin untuk bayi yang bisa bersumber dari
asupan sayuran dan buah bayi.
Bagaimana
bila bayi menolak susu formula dalam botol?
Pemberian
sufor kepada bayi melalui botol tidak selalu berjalan mulus. Kadang kala, bayi
bisa menolak susu botal karena beberapa penyebab seperti:
· Bayi gumoh
· Bayi mengalami sembelit
· Bayi memiliki alergi protein di dalam
sufor sapi.
Jika bayi
menolak susu botol, berikut cara mengatasi yang bisa Anda terapkan:
· Gunakan dot yang nyaman bagi bayi
· Ciptakan suasana menyusu yang nyaman
· Berikan bayi sufor di dalam botol
pada saat yang tepat, yakni saat tidak terlalu lapar maupun kenyang.
· Temukan posisi menyusu yang nyaman
bagi bayi
Memahami
jenis sufor yang tepat untuk bayi sama pentingnya dengan menerapkan cara
pemberian yang baik agar Si Kecil nyaman selama menyusu.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Postingan Populer
Cek Berat Badan Ideal Anak Usia 0-5 Tahun, Si Kecil Sudah Sesuai?
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
MPASI, Bayi Usia 3 Bulan?
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya








Komentar
Posting Komentar