Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
MPASI, Ciri-Ciri Bayi Kekurangan Zat Besi.
Ciri-Ciri Bayi Kekurangan Zat Besi
dan Cara Mengatasinya.
Tidak hanya orang dewasa, zat besi
untuk bayi pun sangat penting dan harus tercukupi. Kekurangan zat besi tentu
bisa berpotensi menganggu tumbuh kembang bayi. Kenali ciri bayi Anda kekurangan
zat besi dan cara mengatasinya dengan tepat berikut ini.
Apa itu kekurangan zat besi pada
bayi?
Zat besi sangat dibutuhkan untuk
menunjang pertumbuhan dan perkembagan bayi. Kekurangan atau definisi zat besi
merupakan penyebab utama dari penyakit anemia pada bayi.
Defisiensi zat besi terjadi karena
kadar zat besi dalam tubuh bayi tidak sesuai dengan kebutuhannya. Berdasarkan
Angka Kecukupan Gizi (AKG) 2019 oleh Kementerian Kesehatan, kebutuhan zat besi
bayi menyesuaikan dengan rentang usianya yakni sebagai berikut.
· 0-5 bulan sebesar 0,3 mg per hari.
· 6-11 bulan sebesar 11 mg per hari.
· 1-2 tahun sebesar 7 mg per hari.
Bayi yang baru lahir menyimpan
cadangan zat besi dalam tubuhnya. Namun, tetap saja mereka memerlukan zat besi
tambahan.
Tidak hanya dari suplemen, tetapi
juga dari ASI dan makanan pendamping (MPASI).
Ciri-ciri bayi yang kekurangan zat
besi.
Bayi membutuhkan zat besi agar otak
mereka berkembang secara normal. Bayi yang kekurangan zat besi sering kali
memiliki tanda kurang aktif secara fisik dan berkembang lebih lambat. Melansir
jurnal Pediatrics Child Health, ada ciri-ciri lain yang mungkin bisa Anda amati
saat bayi kekurangan zat besi, di antaranya sebagai berikut:
· Pertambahan berat badan yang lambat.
· Kulit pucat.
· Bayi tidak nafsu makan.
· Mudah marah atau rewel.
Kemudian pada tahap lanjut, ciri-ciri
yang ditunjukkan dari bayi yang kekurangan zat besi adalah sebagai berikut:
1.
Mudah lelah.
Bayi bisa
mudah lelah saat kekurangan zat besi karena daya tahan tubuhnya menurun. Hal
ini membuat ia lebih rentan mangalami infeksi terus-menerus. Misalnya, bayi
tidak henti-hentinya mengalami batuk, pilek, demam, dan diare secara
bergantian.
2.
Daya pikir terhambat.
Selain itu,
daya pikirnya juga terhambat karena perkembangan otak anak mengalami
keterlambatan. Hal ini berpotensi menurunkan kecerdasan bayi sehingga tidak
sama dengan teman sebayanya.
3.
Mengalami anemia.
Jika kondisi
kebutuhan zat besi yang tidak termpenuhi ini dibiarkan dalam jangka panjang,
bayi mungkin saja mengalami anemia defisiensi besi. Parahnya , kondisi ini bisa
berujung pada pertumbuhan anak yang terhambat hingga mengalami stunting dengan
ciri tubuh anak pendek.
Siapa saja
bayi yang berisiko mengalami kekurangan zat besi?
Dalam hal ini,
bayi yang berisiko tinggi mengalami ciri-ciri kekurangan zat besi adalah
sebagai berikut.
·
Lahir
premature atau memiliki berat badan lahir rendah.
·
Minum
susu sapi atau susu kambing sebelum usia 1 tahun.
·
Diberi
ASI, tapi tidak diberikan makanan pendamping ASI yang mengandung zat besi
setelah usia 6 bulan.
·
Minum
susu formula yang tidak diperkaya dengan zat besi.
·
Bayi
minum susu sapi, susu kambing, atau susu kedelai lebih dari sekitar 710 ml
sehari.
·
Memiliki
kondisi kesehatan tertentu, seperti infeksi kronis.
·
Terpapar
timbal.
·
Kurang
makan makanan kaya zat besi.
·
Kelebihan
berat badan atau obesitas pada anak.
Bagaimana cara mengatasi bayi
kekurangan zat besi?
Salah satu penyebab utama kekurangan
zat besi pada Si Kecil adalah minimnya perhatian orangtua terhadap kandungan
zat besi yang disiapkan dalam makanan untuk bayi (MPASI).
“Sering kali orangtua lebih
memperhatikan kandungan karbohidrat dan hanya memasukkan sayur tanpa
benar-benar menghitung asupan zat besi serta gizi lainnya pada MPASI.” Ujar
Prof. Dr. dr. Saptawati Bardosono, M.Sc, seorang professor gizi medik.
Oleh karena itu, memperhatikan asupan
dalam makanan merupakan salah satu cara untuk mencegah dan mengatasi kekurangan
zat besi pada bayi. Selama enam bulan pertama, bayi yang disusui akan
mendapatkan zat besi yang berjumlah tidak banyak dari ASI.
Jika menyusui bukan pilihan, gunakan
susu formula bayi yang diperkaya zat besi dan dibeli di toko untuk 12 bulan
pertama. Formulanya harus berbahan dasar susu sapi. Begitu bayi makan makanan
padat, jumlah zat besi yang mereka butuhkan tergantung pada usia mereka.
Jika diperlukan, tanda kekurangan zat
besi yang muncul pada bayi bisa diatasi dengan pemberian suplemen zat besi
untuk ana katas rekomendasi dokter.
Prof. Tati, begitu sapaan dari Prof.
Dr. dr. Saptawati Bardsono, M.Sc. menyarankan untuk tidak memberikan suplemen
pada bayi yang sudah berusia 6 bulan.
“Suplemen untuk bayi yang sudah bisa
makan MPASI baru boleh diberikan jika pemberian MPASI kaya zat besi tidak juga
mempan”. Ujar Prof Tati. Perlu diingat bahwa pemberian suplemen dalam jangka
panjang jangan sampai membawa efek samping, seperti bayi kelebihan zat besi.
Jika ragu, sebaiknya berkonsultasi
dengan dokter. Dengan begitu, Anda bisa menemukan cara yang tepat untuk
mengatasi gejala kekurangan zat besi pada bayi Anda.
Kesimpulan.
Ciri kekurangan zat besi pada bayi
dapat dikenali dan diatasi. Pastikan menjaga pertumbuhan dan perkembangan anak
Anda pada jalurnya dengan memberi makanan kaya zat besi dan zat gizi untuk bayi
lainnya.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Postingan Populer
Cek Berat Badan Ideal Anak Usia 0-5 Tahun, Si Kecil Sudah Sesuai?
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Panduan Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) Bayi
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya




Komentar
Posting Komentar